thumbnail

I Desperately Avoided the Annihilation Ending. The Party Became Sick Chapter 3 Bahasa Indonesia

 

I Desperately Avoided the Annihilation Ending. The Party Became Sick Chapter 3 Bahasa Indonesia


〈Mage〉Rizelarte II

03.〈Mage〉Rizelarte II

Pertemuan mereka sangatlah berkesan. Saat Rizelarte masih bepergian sendirian dia melihat seorang anak laki-laki dikelilingi oleh empat serigala iblis, yang dikenal sebagai serigala badnit di dekat sebuah kota kecil.

Tentu saja, dia mengira anak itu sedang diserang oleh monster. Meskipun anak laki-laki itu mengenakan armor petualang ringan, dia berdiri tanpa bergerak sedikitpun dengan tangan di pedang yang masih berada di pinggangnya. Sangat umum bagi petualang muda dan pemula untuk membeku ketakutan ketika berhadapan dengan monster. Serigala iblis, atau serigala bandit, adalah monster level rendah yang mirip dengan goblin atau slime, pada dasarnya mudah untuk dikalahkan. Mereka sedikit lebih besar dari anjing liar dan memiliki bulu keunguan. Meskipun mereka tidak memiliki sesuatu yang istimewa selain kaki yang cepat dan taring yang tajam, tetapi gerakan mereka pada dasarnya cukup berbeda sehingga tidak boleh diremehkan. Bahkan petualang berpengalaman terkadang terluka oleh mereka.

"Yah, mau gimana lagi. Haruskah aku membantunya?"

Rizel adalah seorang penyihir hebat dan sombong. Dia bukan tipe yang akan membantu siapa saja, tapi mengabaikan seorang anak yang diserang akan mencoreng namanya. Tidak ada salahnya dengan cepat menghabisi serigala-serigala itu dan mendapatkan pujian dari anak itu. Saat dia merasa sangat puas dengan dirinya sendiri, memikirkan untuk memamerkan kekuatannya sebagai penyihir hebat, dia tiba-tiba berhenti.

"Apa—?"
–Ada perasaan aneh.

Dia merasakan sensasi geli di kulitnya dan memperhatikan aura yang tidak dikenal memancar dari anak laki-laki yang posisi tangannya berada di pedang. Itu bukan niat membunuh, tapi secara naluriah membuat Rizel ragu untuk mendekat.

‘Tidak mungkin――’

Anak itu tidak membeku karena takut… Dalam sekejap Rizel sempat kehilangan fokus, serigala-serigala iblis melompat ke arah anak itu secara bersamaan.

Rizel mendecit lidahnya karena keraguannya. Dia dengan cepat menyalurkan sihirnya dan mulai menyusun sihir untuk melindungi anak itu. Sihir biasa tidak akan cukup cepat, jadi dia memilih sihir minimal untuk mengatasi ancaman tersebut.

Muncul sinar cahaya perak. Tiga dari empat serigala iblis langsung terbelah, jatuh ke tanah dalam sekejap.

“…!?”

Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari bahwa anak laki-laki itu yang telah menebas mereka.

Bagi satu-satunya serigala iblis yang lolos dari serangan itu, tidak ada yang bisa membuatnya lebih ketakutan. Apa yang seharusnya menjadi perburuan mudah dengan target seorang anak sendirian berubah menjadi pembantaian bagi kawanannya dalam sekejap, tanpa mengerti apa yang terjadi. Instingnya memilih melarikan diri. Anak laki-laki itu tidak mengejarnya, dan hanya terdengar suara dedaunan yang terinjak ketika serigala tersebut kembali ke hutan.

“…Huh, ap-apa?”

Rizel tertegun. Dia diam terpaku di sana, mulutnya terbuka lebar. Mantra yang hendak dia lancarkan menghilang menjadi partikel sihir yang samar, menyebar dan lenyap. Anak laki-laki itu tampak seperti anak kecil pada umumnya, kira-kira berusia sepuluh tahun. Tidak aneh jika orang dewasa akan memarahinya karena memegang pedang di usia itu. Penampilan anak laki-laki yang seperti anak kecil tidak cocok dengan keahlian pedang artistik yang baru saja mengalahkan serigala iblis itu. Anak itu memeriksa kondisi pedangnya. Ujungnya sedikit ternoda oleh darah merah gelap, kemungkinan besar dari serigala-serigala itu. Mengingat dia telah menebas tiga serigala iblis dalam satu tebasan, jumlah darah di pedang itu terbilang cukup sedikit. Keahlian itu begitu luar biasa sehingga bahkan darah dari binatang yang terbunuh hampir tidak menempel di bilah pedangnya.

Keahlian seperti itu, pikir Rizel, melampaui petualang paling terampil yang pernah dia temui—
‘Tidak, tapi tetap saja, apa yang baru saja terjadi—’

Mungkin ini efek samping menjadi penyihir, tapi pikiran Rizel terus memikirkannya. Saat dia terjebak dalam pikirannya, dia cenderung tidak menyadari keadaan di sekitarnya. Akibatnya, dia tidak menyadari bahwa topi penyihir besar dan tongkatnya terlihat dari balik pepohonan, membuatnya cukup terlihat.

“—Siapa di sana?”
“Apa?!”

Anak laki-laki itu tiba-tiba ada di sebelahnya. Terkejut, Rizel melompat dan menginjak jubahnya, membuatnya tersandung dan jatuh telungkup.

“Ahh!”
“…”
“…Ahem.”

Dia telah sepenuhnya terlihat. Meskipun mata Rizel berkaca-kaca,  dengan ketahanan mental baja dia berdiri seolah tidak terjadi apa-apa. Dia tidak lupa untuk berdeham dengan anggun untuk mempertahankan martabat sebagai penyihir yang hebat. Anak laki-laki itu, melihat penampilan Rizel, memiringkan kepalanya dan bergumam.

“Anak kecil?”
“Apa!?”

Rizel tersentak. Dia berjalan ke arah anak laki-laki itu,
“Bukan! Aku sama sekali bukan anak kecil! Mungkin aku terlihat seperti ini, tapi usiaku jauh lebih tua darimu! Jangan menilai orang dari penampilannya, bocah tidak sopan!”
 “Bukan…?”

Anak laki-laki itu membuka matanya lebar-lebar, terkejut dengan reaksi keras Rizel.

“Aku, aku mengerti. Maaf.”
“Hmm…hmm, bisa meminta maaf dengan tulus adalah hal yang bagus. Aku terlalu keras berbicara. Maaf.”
Rizel tersenyum, lega. Dia terkesan dengan betapa pengertian anak laki-laki itu.

“Kamu dikelilingi oleh serigala iblis, jadi aku ingin membantumu... tapi sepertinya aku tidak perlu khawatir. Kerja bagus.”
“Hmm…”

Namun, alih-alih senang dengan pujian tulus Rizel, anak laki-laki itu mengernyit. Dia memasukkan pedangnya ke dalam sarung dengan sedikit malu, lalu berkata,
“…Lupakan itu.”
“Hm? Kenapa?”
“Aku kira aku sudah memotong semuanya... tapi aku melewatkan satu. Aku masih harus banyak belajar.”

Mata Rizel melebar, bukan hanya karena pernyataan itu tetapi juga karena kerendahan hati anak laki-laki tersebut. Meskipun menunjukkan keahlian yang luar biasa, dia tidak menunjukkan kebanggaan, hanya rasa malu. Pada titik ini, Rizel semakin tertarik pada anak laki-laki itu.

“Kamu... kamu seorang petualang, kan?”
 Anak laki-laki itu mengangguk.
“Apa kamu punya teman? Apakah kamu sendirian?”
Dia mengangguk lagi.
“Jika kamu sendirian, kamu tidak akan mendapatkan banyak misi besar…”

Anak laki-laki itu tampak agak tidak puas. Bagi Rizel, sudah luar biasa bahwa seorang anak sekitar sepuluh tahun diizinkan pergi sendiri tanpa ditemani petualang senior. Kalau tidak menyaksikan keahlian pedang anak laki-laki itu, Rizel mungkin akan marah pada kelalaian serikat guild.

Rizel, dengan senyum, bertanya, “Hei, bisakah kamu tunjukkan sihir Penguatan Tubuh itu lagi?”

〈Penguatan Tubuh〉
— mantra dasar penting yang meningkatkan berbagai kemampuan fisik. Ini adalah sihir krusial bagi petualang dan ksatria untuk melawan monster yang tangguh. Anak laki-laki itu tampak bingung, bertanya-tanya apa yang akan Rizel lakukan setelah melihatnya.

“Aku seorang penyihir, seperti yang kamu lihat. Sihir Penguatan Tubuhmu tampak agak tidak beres di mataku.”
“Hm…”
“Jika diperbaiki, keahlian pedangmu bisa menjadi lebih hebat tahu?”

Begitu dia mendengar bahwa keterampilan pedangnya bisa meningkat, dia dengan bersemangat mengangguk dan berkata,
"Tolong, aku ingin bantuanmu!"
"Ya, sudah menjadi tugas para senior untuk mengajar dan membimbing generasi muda."

Rizel merasa senang. Sudah lama sejak dia berbicara dengan seseorang yang begitu patuh. Saat berurusan dengan manusia bodoh, mereka sering kali menolak untuk percaya pada klaimnya dan menganggapnya seperti anak kecil serta menertawakannya. Dia bosan harus meledakkan wajah orang-orang seperti itu dengan sihir.

Anak laki-laki itu segera mulai mengalirkan sihirnya dan mengaktifkan mantra Penguatan Tubuh. Kecepatan dia menyusun sihir di atas rata-rata, dan kemampuannya tidak buruk. Meskipun usianya masih muda, jelas dia telah berlatih dengan tekun. Namun,

"Bagaimana ya... semuanya tidak konsisten."
"Tidak ada sinkronisasi..."

Jalur sirkuit sihirnya berantakan, tidak efisien dan boros. Itu seperti mengambil jalan yang berliku, sempit, dan gelap untuk mengangkut barang di kota daripada menggunakan jalan utama yang terawat baik. Peningkatan itu secara teknis berfungsi, tapi begitu tidak efisien sehingga akan menguras sihirnya dengan cepat dan tidak akan bertahan lama.

"Bagaimana seseorang bisa mengajarimu teknik yang berantakan ini? Siapa itu?"
"... Ah"
Anak laki-laki itu kehilangan kata-kata dan ragu-ragu.

"...Lebih seperti aku belajar sendiri."
"Apa?"
"Aku menyadari bahwa aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak benar-benar tahu tentang teknik-tekniknya..."

"Ah", Rizel mengerti sekarang. Beberapa individu terkadang menemukan bahwa mereka bisa menggunakan sihir secara alami, tanpa instruksi formal. Namun, karena mereka tidak memahami prinsip-prinsip di baliknya, sirkuit sihir mereka sering kali berakhir seperti coretan anak kecil.

"Sihir Penguatan Tubuh itu tidak bertahan lama, kan?" Anak laki-laki itu mengangguk,

"Setelah sekitar empat jam, aku merasa akan pingsan..."
"Apa? Bahkan dengan sirkuit sihir yang tidak efisien itu, kamu bisa mempertahankannya selama empat jam? Itu mengesankan."
"Awalnya, dulu hanya bertahan lima menit."
"Hah? Tunggu, maksudmu..."
"Semakin aku memaksakan diri sampai batas, penguatannya bertahan semakin lama."

Rizel memberi anak laki-laki itu sedikit pukulan ringan di kepala.
"Aduh..."
"Bodoh! Siapa yang berlatih seperti itu saat ini?!"

Memang benar bahwa kekuatan sihir mirip dengan kekuatan fisik, dan mungkin untuk meningkatkan jumlah maksimumnya melalui latihan, tapi seperti ada orang bodoh yang berlari sampai pingsan setiap hari untuk membangun kekuatan fisik, praktik menggunakan sihir sampai kamu pingsan sudah lama tidak digunakan.

Jika dilakukan terus menerus, metode ini bisa benar-benar membunuhmu. Namun, anak laki-laki itu tampak bangga dengan latihannya.

"Kamu... kamu bisa mati tahu! Berapa lama kamu sudah melakukan ini? Setengah bulan? Sebulan?" "...Tujuh tahun?"
"Se-tujuh tahun?! Dengan sirkuit yang tidak efisien seperti itu?! Sampai kamu pingsan beberapa kali?! Tidak, tunggu... Cukup sudah!! Bodoh! Dungu! Apa yang kamu pikirkan? Tujuh tahun! Kenapa kamu memaksakan dirimu begitu keras?! Ini pertama kalinya aku melihat orang sebodoh ini!"

Rizel, seorang penyihir hebat yang sombong, merasa penggunaan sihir yang tidak efisien dan tidak logis sampai tidak bisa ditoleransi. Ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu, dia sering menjadi sangat gelisah sehingga dia akan mengayunkan tinjunya dengan frustrasi.

"Dilarang! Kamu tidak boleh melakukan itu lagi! Kamu akan mati suatu hari nanti jika terus melakukannya!"
"...Ah, baiklah..."

Namun, anak laki-laki itu tampaknya menatap Rizel dengan pandangan yang menunjukkan bahwa dia ingin mengatakan sesuatu. Rizel menatapnya dengan tajam.
"Apa-apaan itu?! Apa maksudmu dengan pandangan itu?! Apakah kamu punya sesuatu untuk dikatakan?!"
"T-tidak... hanya saja cara bicaramu tiba-tiba berubah..."
"...Ahem."

Rizel membersihkan tenggorokannya, menurunkan nadanya agar terdengar agung dan mengesankan lagi.

"Bagaimanapun, kamu bilang kamu tidak punya siapa pun untuk mengajarimu sihir, kan? Pertemuan kita di sini pasti takdir. Aku berencana tinggal di kota untuk sementara waktu, jadi aku akan memberikanmu beberapa bimbingan selama itu."
"Hah? Tapi..."
"Sebenarnya, biarkan aku mengajarimu. Tolong. Aku tidak tahan melihat sihir digunakan dengan begitu buruk."
"...Tentang cara bicaramu tadi..."
"Diam! Lupakan itu! Dengarkan aku! Aku lebih tua darimu, jadi kamu harus patuh padaku!"
"U-uh... baiklah..."

Jika dipikirkan kembali, itu adalah pertemuan yang cukup aneh.

Dengan demikian, Rizel memutuskan untuk mengajarkan anak laki-laki itu—Volka—sihir tanpa memberikan ruang lagi untuk berargumen, . Pada awalnya, itu hanya untuk memperbaiki sihirnya yang seperto coretan anak kecil. Tapi seminggu kemudian, sihir Penguatan Tubuhnya telah benar dan memungkinkan pedangnya memotong lima serigala iblis dalam sekejap.

Rizel sangat mengingat ekspresi di wajah Volka sampai hari ini. Volka, yang jarang tersenyum, berseri-seri seperti anak kecil dan berkata,

"–Sensei! Tolong ajarkan aku lebih banyak sihir!" "...!"

—Sensei! Anak laki-laki ini baru saja memanggilku Sensei!

Sensei, Sensei, Sensei, Sensei—suara manis itu bergema di kepala Rizel.

Rizel adalah seorang penyihir besar yang agung dan bermartabat. Di dunia penyihir, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa memiliki murid adalah tanda kebesaran. Tidak ada yang menganggap seorang penyihir tanpa murid sebagai penyihir kelas satu. Mereka akan berkata dengan mengejek, "Seorang penyihir tanpa murid hanyalah penyihir kelas dua, hahaha!"

Namun, Rizel tidak memiliki murid. Dia belum pernah memilikinya. Tubuh Rizel masih muda. Dia terlihat seperti anak kecil biasa. Tidak ada yang ingin menjadi murid seseorang yang tampaknya adalah seorang gadis kecil
—terlepas dari usia atau kekuatannya yang sebenarnya.

Singkatnya, Rizel adalah seorang penyendiri.

Jadi, apa yang terjadi ketika Rizel dipanggil ‘Sensei’ oleh seseorang dengan mata yang tulus untuk mengajarinya?

"Hu, heh, heh, heh, heh, heh... hmm, aku mengerti. Aku mengerti, jadi, kamu ingin belajar lebih banyak dariku, ya? Nah, bagaimanapun juga aku adalah seorang penyihir yang sangat luar biasa. Sudah wajar kamu ingin menjadi muridku. Oh sayangnya, aku cukup sibuk, tahu?"
"Ah... jadi kamu sibuk, sayang sekali..."
"Jangan menyerah begitu saja! Bujuk lebih keras! Kamu ingin aku mengajarimu sihir, bukan?!"
"Eh...? Yah, iya, tapi jika kamu tidak mau, maka..."
"Jangan katakan 'jika kamu tidak mau,' bodoh!! O-oke, sekali lagi! Katakan padaku! Apa yang kamu inginkan dariku?!"
"...Aku ingin belajar sihir darimu. Tolong jadikan aku muridmu, Sensei?"
"....U-uhm. Baiklah, baiklah. B-baiklah, aku akan menjadikanmu muridku. Ehehe."

Dan begitulah kejadiannya.

Rizel yang kesepian sangat mudah senang.

/

—Itu mengembalikan banyak kenangan nostalgia. Saat pertama kali aku bertemu Volka, itulah momen ketika aku memiliki murid pertamaku. Sejak itu, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian, terus-menerus mengurusnya sebagai gurunya. Bakatnya yang luar biasa membuatnya sedikit terasing di serikat, tapi tidak masalah bagiku.

Karena dengan begitu aku bisa memilikinya sepenuhnya untuk diriku sendiri. Murid pertamaku yang sangat berharga. Ketika aku memikirkannya seperti itu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa sangat menyayanginya.

Saat sedang belajar dasar-dasar sihir, Volka tidak pernah absen dari latihannya pedangnya. Seolah-olah dia dilahirkan dari pedang, berlatih dengan dedikasi yang begitu tinggi. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa, kecuali makan dan tidur, dia selalu menghabiskan waktunya mengayunkan pedang.

Tanpa ragu, Volka suatu hari akan menjadi seorang pendekar pedang yang terkenal. Ketika aku bertanya apakah dia ingin menjadi seorang ksatria, dia menjawab dengan ragu. Tampaknya dia terlalu fokus pada menyempurnakan keterampilan pedangnya tanpa berpikir banyak tentang masa depannya. Jadi, ketika keterampilan pedang dan sihirnya telah selaras dengan baik, aku dengan berani menyarankan agar kami membentuk sebuah kelompok. Jika dia menolaknya begitu saja, itu tidak akan terlalu buruk. Tapi jika dia mengatakan sesuatu seperti, "Um, tidak terima kasih... Apakah kamu salah paham?" dan melihatku dengan jijik, aku siap untuk bunuh diri. Untungnya, dia menerimanya dengan senang hati. Ketika dia melakukannya, aku sangat lega hingga hampir pingsan, dan aku menangis sedikit karena kebahagiaan yang murni, tapi itu bukan intinya.

Setelah tiga hari tiga malam memikirkannya, kami akhirnya menamai kelompok kami "Silvery Grey Journey" . Perak untuk rambutku, dan abu-abu untuk rambut Volka. Itu melambangkan bahwa kelompok ini adalah tempat kami bersama, sebuah simbol kecil dari perasaanku bahwa Volka adalah milikku.

Aku siap untuk gantung diri jika dia mengatakan, "Bukankah nama itu agak... aneh?" Tapi untungnya, dia berkata, "Aku pikir itu bagus." Syukurlah, dia tampaknya menilai berdasarkan suara daripada memperhatikan sentimen yang aku berikan.

Itu adalah kelompok yang bebas tanpa keyakinan atau impian khusus, hanya melakukan apa yang kami inginkan. Mengambil permintaan untuk membantu orang, membunuh monster untuk mendapatkan uang, kadang-kadang pergi ke perjalanan kecil jauh dari kota—hal-hal sederhana itu menjadi sangat menyenangkan.

Sekitar dua tahun berlalu. Saat berkeliling ibukota, kami bertemu Yuritia, yang menjadi murid Volka—atau lebih tepatnya, juniornya. Lalu kami bertemu Atori, yang telah bepergian sendirian, dan tidak lama kemudian kelompok kami telah bertambah menjadi empat orang.

Pada awalnya, aku cemburu karena aku tidak bisa memiliki Volka sepenuhnya untuk diriku sendiri lagi, tapi Yuritia dan Atori ternyata anak-anak yang baik. Sebelum aku menyadarinya, mereka semua merasa seperti keluarga berharga. Aku pikir kami akan terus memiliki hari-hari menyenangkan bersama selamanya.

Tapi kenyataannya adalah ini.

Setiap petualang, tidak peduli seberapa berpengalamannya, mereka sungguh tahu bahaya dungeon. Mereka adalah area berbahaya yang akan terus menghasilkan monster tanpa henti kecuali masternya dikalahkan. Mereka adalah benteng kejahatan yang harus ditaklukkan oleh umat manusia. Harta di dalamnya memberi harapan bagi para petualang, tapi banyak prajurit yang tak terhitung jumlahnya telah binasa tanpa pernah melihat cahaya matahari lagi.

Tapi seharusnya cukup aman bila berada di dalam dungeon yang sudah ditaklukkan. Begitu monster bos dikalahkan, dungeon kehilangan kemampuannya untuk menghasilkan monster dan akhirnya menjadi reruntuhan. Namun, tempat-tempat seperti itu rentan terhadap monster dan perusuh lain yang masuk, itulah sebabnya serikat secara teratur mengeluarkan permintaan untuk menyelidikinya demi keamanan, terutama yang dekat dengan kota dan desa. Permintaan ini dimanfaatkan oleh berbagai petualang untuk mencari harta yang belum ditemukan, menghasilkan uang perjalanan, atau pelatihan untuk eksplorasi dungeon.

Itulah pengetahuan umum di dunia ini. Tapi siapa yang bisa memprediksi bahwa dungeon itu belum sepenuhnya ditaklukkan dan monster yang bisa membuat kelompok S-rank ketakutan sedang menunggu di dalamnya?

"...Volka..."

Di rumah sakit gereja tempat sister tua membimbingku, Volka sedang tidur nyenyak. Siapa pun bisa melihat dia tidak tidak terluka. Meskipun luka-lukanya telah disembuhkan oleh sihir suci, mata kanannya hancur, kakinya diamputasi dan bekas luka permanen  di kulit yang terlihat melewati kain rumah sakitnya. Aku belum pernah melihat seseorang yang terluka begitu parah sebelumnya. Napasnya tenang. Begitu tenang hingga menjadi menakutkan—apakah Volka benar-benar hidup? Apakah dia masih bernapas? Setiap kali, aku akan menggenggam tangannya, Aku menekan tubuhku ke arahnya, dan mendengarkan detak jantungnya berulang kali.

Selain itu, aku tidak bisa melakukan apa-apa.

Satu jam telah berlalu sejak sister tua meninggalkannya, dan Rizel hanya bisa duduk di sana, lumpuh oleh ketakutan, hancur oleh beratnya kenyataan di hadapannya. Bersukacitalah bahwa hidupnya selamat, suara sister tua bergema di benaknya. Tidak mungkin. Itu adalah rasa egois murni. Bahkan jika dia selamat, tidak ada orang waras yang bisa menemukan kegembiraan melihatnya dalam keadaan ini. Setelah kehilangan mata dan kaki, Volka pada dasarnya mati sebagai petualang. Lebih dari itu, tidak pasti apakah dia bahkan bisa menjalani kehidupan normal dari sekarang. Volka, yang memiliki bakat cemerlang untuk pedang dan ditakdirkan untuk masa depan yang cemerlang, sekarang hidupnya hancur berkeping-keping.

Dan itu semua salah Rizel. Karena dia yang memutuskan untuk mengambil permintaan itu, sebagai pemimpin kelompok.

"...Maaf..."

Jika Rizel tidak mengambil permintaan itu. Jika dia menyadari perubahan di dungeon sebelumnya sebagai pemimpin. Tidak, jika saja dia memiliki kekuatan yang layak dari 'penyihir besar dan agung'... Kenyataan di hadapannya mungkin berbeda.

Itu semua salah Rizel.

"Maaf, aku sangat menyesal..."

Rizel adalah guru sihir Volka. Bagi Rizel, Volka adalah satu-satunya murid yang berharga di dunia ini. Dia benar-benar seorang murid yang menggemaskan, yang dia sayangi melebihi kata-kata.

-Dan aku telah menghancurkan hidupnya.
-Jika saja aku tidak memiliki pemikiran bodoh seperti itu,
-Jika saja aku lebih dapat diandalkan, -Karena aku tidak berguna,
-Karena aku lemah,
-Karena aku, karena aku, karena aku, karena aku, karena aku
"Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf..."

Jika sister tua itu berada di sisinya, mungkin dia bisa menegur dan menghibur Rizel.

Tapi kenyataannya berbeda. Sister itu telah lelah dari tugas panjangnya dan sudah meninggalkan ruangan tersebut, selain itu Yuritia serta Atori belum kembali. Akibatnya, Rizel meyakinkan dirinya bahwa dia telah menghancurkan hidup Volka dan bahwa itu adalah dosa yang tidak bisa dihapus, tidak peduli apa yang dia korbankan.

Dengan mata yang tak memiliki cahaya, Rizel terus mengulangi kata-kata yang sama berulang-ulang.

Jika hati manusia adalah sesuatu yang dapat dilihat dengan mata telanjang, maka pada saat itu, hati Rizel pasti akan memiliki bentuk yang terdistorsi oleh bayangan yang mengerikan.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments